LECES – Gara-gara menunggak membayar SPP, nasib Yh, siswa kelas IX SMP Taruna Leces, menggantung. Hingga saat ini, pihak sekolah belum menyerahkan rapor kenaikan kelas milik siswa asal Perum Permai Leces tersebut. Akibatnya, Yh terancam tidak bisa daftar ulang yang dijadwalkan Senin besok (20/6).
Kalau sampai tidak daftar ulang, maka siswa tersebut dinyatakan mengundurkan diri atau tidak melanjutkan sekolah. Ganjar Budi Santoso, orang tua Yh mengatakan, keputusan sekolah menahan rapor anaknya menyalahi aturan. Sebab, sesuai intruksi dari Kementerinan Pendidikan, sekolah dilarang menahan apapun milik siswa.
Sebab, bisa mengganggu proses keberlangsungan atau kelanjutan sekolah. Namun, kenyataannya, hingga saat ini, rapor anaknya belum juga dikeluarkan oleh sekolah. ”Waktu pembagian rapor, punya anak saya ditahan. Karena tunggakan membayar SPP sekolah. Sampai sekarang saya tidak tahu nilai rapor anak saya berapa. Apakah naik kelas atau tidak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo kemarin (18/6).
Ganjar menjelaskan, ada dua anaknya yang sekolah di SMP Taruna Leces. Yakni Yh, yang tahun ini naik kelas IX. Dan Al, yang tahun ini lulus. Nah, sejatinya kedua anaknya itu mengalami masalah serupa. Menunggak pembayaran SPP. Anak pertamanya, Al, kesulitan mengambil rapor dan nilai kelulusan.
Ganjar kemudian menemui pihak sekolah dan Yayasan. Mengingat, dia merupakan eks karyawan PTKL yang sampai kini belum menerima dana pensiunan, tunjangan hari tua dan tunggakan gaji. Pada dua lembaga itu, Ganjar minta semua biaya atau tanggungan tunggakan sekolah anaknya diklaimkan ke dana pensiun atau dana lain yang belum terbayarkan oleh PKTL.
Permintaan itu diajukan Ganjar, karena dulu, biaya sekolah anaknya dibayar dengan cara potong gaji. Selain itu, yayasan sekolah tersebut berada di bawah naungan PTKL. ”Tapi yang dapat kompensasi hanya anak saya yang pertama. Jadi, anak saya bisa menerima semua surat kelulusan dan melanjutkan sekolah di luar. Sedangkan anak saya yang kedua, rapornya ditahan,” ungkapnya.
Ganjar bercerita, tunggakan biaya sekolah dan SPP anaknya yang kedua, cukup besar. Yaitu sisa uang DPP (dana pembangunan pendidikan) sebesar Rp 1,6 juta. Lalu, SPP selama 11 bulan saat kelas I dan SPP selama satu tahun saat kelas II. Jadi total 23 bulan.Tiap bulannya, besar SPP yang harus dibayar Rp 110 ribu. Sehingga, tunggakan SPP yang belum terbayar selama dua tahun adalah Rp 2.530.000. Ditambah sisa uang DPP, total tunggakan biaya sekolah Yh mencapai Rp 4.130.000.
”Kami sudah berusaha meminta pada yayasan untuk mengeluarkan rapor anak saya. Karena kalau rapor tidak keluar, anak saya tidak bisa daftar ulang Senin besok. Akibatnya anak saya bisa dinyatakan mengundurkan diri,” jelasnya.
Ganjar sendiri, menggantungkan harapan pada dana pensiunan milinya yang baru terbayar Rp 10 juta. Menurutnya, ada sisa Rp 18 juta dana pensiun yang belum terbayar. Sementara itu, kepala SMP Tarunan Leces, Ahmad Syawabi saat dikonfirmasi membenarkan keputusan sekolah menahan rapor siswa bernama Yh. Sebab, tunggakan biaya sekolan yang belum terbayarkan sangat besar.
”Kalau kami hanya menjalankan kebijakan dari yayasan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo kemarin. Syawabi menjelaskan, pihak yayasan sudah memberikan kebijakan terhadap kedua anak Ganjar tersebut. Untuk siswa Al, semua tunggakan diklaimkan ke dana pensiun yang ada di PTKL. Sedangkan, siswa Yh itu diminta membayar tunggakan SPP.
”Sekali lagi, saya sebagai kepala sekolah hanya menjalankan kebijakan dari yayasan,” ujarnya. (radar)
(Sumber kabarbromoterkini.com )

0 Komentar untuk "Nunggak SPP, Rapor Siswa SMP Taruna Leces Ditahan Sekolah"